Selamat Jalan, Akira Toriyama

 




8 Maret 2024.

Jum'at ini terasa seperti Jum'at biasanya, menggambar sambil mendengarkan obrolan-obrolan menarik di YouTube, sambil menunggu waktu Jum'atan tiba.

Sesekali, saya membuka Twitter, untuk mencari asupan visual.

Scroll, scroll...

Ada sebuah tweet dari akun game Sandland, berisi teks yang cukup panjang.

"Akira Toriyama, passed away on March 1st due to acute subdural hematoma."

Saya terdiam sejenak, dan membaca tweet tersebut dua-tiga kali untuk meyakinkan diri bahwa saya tidak salah baca.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Baru saja saya berdiskusi mengenai kematian, dan bagaimana singkatnya kehidupan di dunia ini, tiba-tiba tokoh besar dalam dunia gambar menggambar, telah berpulang di usia 68 tahun.

---

Dragon Ball, siapa yang tidak tahu Dragon Ball?

Bahkan ibu-ibu yang sama sekali tidak punya interest sama sekali dengan dunia komik dan kartun, kemungkinan besar tau Dragon Ball. Minimal judulnya dan "Son Goku"nya.

Jujur, saya tidak punya interest sama sekali dengan Dragon Ball waktu saya kecil, karena rasanya melihat orang-orang berotot saling pukul, saling tendang, terasa sangat brutal dan tidak manusiawi.

Saya lebih suka melihat hewan-hewan dipaksa berkelahi oleh pelatihnya, karena menurut logika saya ketika masih kecil, itu lebih manusiawi.

Ketika teman-teman sekolah tergila-gila menggambar lelaki berotot bulat-bulat, saya hanya bisa bingung melihat apa serunya, menggambar lelaki berotot.

Sekarang, mereka yang menggambar lelaki-lelaki berotot itu, sudah tidak pernah menggambar lagi.

Sehebat itu, inspirasi yang disalurkan oleh Dragon Ball, yang membuat anak-anak suka menggambar lelaki berotot.

Suatu hari, saya diajak orang tua saya ke toko buku, tentunya untuk membeli buku.

Sialnya (sebenarnya untung sih), di toko buku itu ada bagian jualan mainan, dan karena populernya Dragon Ball saat itu, berjejerlah berbagai macam mainan Dragon Ball di etalase.

Mata saya tertuju pada sosok berwarna pink yang agak lain.

Di jejeran lelaki berotot di etalase itu, ada mahluk-mahluk yang menyerupai monster!

Majin Buu dan Cell, sangat menarik perhatian saya. Ingin rasanya membeli keduanya, tapi pasti orang tua saya tidak mau membelikan keduanya. Bahkan, sebenarnya ini kan toko buku, tujuan kesini, ya beli buku!

Terjadi perdebatan antara anak dan orang tua, yang akhirnya dimenangkan si anak dengan cara: menangis merengek supaya dibelikan mainan.

Mainan Majin Buu saya dapatkan, dan selanjutnya adalah sejarah. (Maksud?)

---

Waktu itu, Dragon Ball tayang di Indosiar, sebuah channel yang hanya bisa diakses oleh mereka yang mempunyai privilege TV kabel, atau parabola.

Saya tidak memiliki privilege itu, jadi tidak pernah nonton.

Komik pun, hampir tidak pernah baca. 

Paling, cuma satu-dua volume yang saya baca, di tempat teman saya.

Tapi, ada satu kartun menarik karya Akira Toriyama, yang ditayangkan di SCTV, yang untungnya tidak memerlukan privilege tinggi-tinggi untuk bisa ditonton.

Kartun itu berjudul "Dr. Slump".

Kepala besar, kepala besar, kepala besar~ Tidak~

Kartun itu terasa sangat liar kalau diingat-ingat lagi.

Mungkin dengan nilai-nilai lembaga sensor hari ini, kartunnya bakal banyak dipotong dan jadi tidak lucu.

Banyak orang yang membandingkan gambar kartun Dr. Slump dan Dragon Ball.

Karena minimnya dan sulitnya mencari informasi di jaman dulu, terjadilah perdebatan-perdebatan tak berujung.

Padahal ya sudah jelas, kedua kartun itu, karya Akira Toriyama.

---

Lebaran tiba.

Waktu bertamu ke tempat tetangga, bukannya bermaaf-maafan, teman saya dan keluarganya malah main Dragon Ball Z: The Legend.

Game itu berbahasa Jepang, dan yang main pun kelihatannya tidak memahami apa yang sedang mereka mainkan.

Hanya menekan tombol secara acak, berharap musuh kalah, sambil menikmati animasi gebuk-gebukan.

Waktu itu, game yang beredar tidak banyak, dan umumnya itu-itu saja.

Saya yang tadinya tidak tertarik menggambar laki-laki berotot, setelah melihat animasi gebuk-gebukan di PS, jadi mulai menggambar laki-laki berotot juga.

Kelihatannya, saya jadi fans Dragon Ball jalur game, dimana saya mengetahui potongan-potongan cerita kartun dan komiknya melalui game.

Banyak kenangan di zaman Budokai Tenkaichi PS2 dan PS3, terlebih di zaman itu, game Dragon Ball memiliki gambar yang sangat mengagumkan di masanya.

Bicara soal game, saya teringat bagaimana saya mendengar kemantapan Chrono Trigger berulang kali, tapi sama sekali belum pernah betul-betul meluangkan waktu untuk menamatkan game legendaris tersebut.

Ah, Dragon Quest pun begitu.

Karya Akira Toriyama, ternyata sangat luas!

Tidak cuma Dragon Ball.

Desain karakter yang Akira Toriyama buat, begitu otentik, sederhana, dan mudah dikenali.

Sedikit banyak, karya sayapun tanpa sadar 'mencuri' bagian-bagian dari gaya menggambar Akira Toriyama.

Tidak sedikit pula, orang-orang yang meniru 100% gaya menggambar Akira Toriyama, dan menjadikan hal itu sebagai ladang usaha.

Karya-karya besar yang ada, juga tidak sedikit yang sangat terpengaruh dari Dragon Ball.

Waduh, karya besar saja, terpengaruh Dragon Ball. Kalau begitu, Dragon Ball disebut apa kalau bukan karya besar?

Mahakarya, mungkin?

---

Sekali lagi, terima kasih banyak kepada Akira Toriyama,

yang semasa hidupnya menciptakan banyak hal yang baik, yang menjadi inspirasi untuk banyak sekali anak-anak dan penikmat karyanya.


Comments

Popular Posts